Sunday, 9 June 2013

KDP (kekerasan dalam pacaran)

Kekerasan dalam pacaran (disingkat KDP) cukup banyak terjadi dalam relasi pacaran kawula muda saat ini, tapi tak semua menyadarinya. KDP dilakukan oleh salah satu atau kedua pihak dalam pasangan, dan memang lebih banyak dilakukan oleh pria. Makin lama makin meningkat.
Pada saat awal pacaran, ia manis sekali. Ya namanya juga jatuh cinta. Ya di awal-awal hubungan, topeng yg ditampilkan yg paling indah. Setelah rentang waktu tertentu, lapisan topeng makin terbuka dan individu mulai menampilkan wajah aslinya. Umumnya setelah 6 bulan.

Level 1 dari kekerasan dalam pacaran: kekerasan verbal - emosional. Ia mulai marah-marah dgn nada tinggi, mulai membentak dan menghardik. Tanda paling jelas dari kekerasan verbal-emosional adalah penggunaan kata2 kasar, nama2 binatang, atau sebutan merendahkan lain saat marah. Kekerasan verbal-emosional ini bisa berlangsung cukup lama, sehingga korban terbiasa dgn itu bahkan (dlm level tertentu) menganggapnya wajar. Saat pemakluman akan perilaku merendahkan dan mencaci-maki terjadi, kamu sudah berada dlm kuasa si pelaku. Kamu korban KDP.
Level kedua dari Kekerasan dalam pacaran adalah kekerasan fisik. Yang ini lebih menyiksa, dan pengaruhnya pd korban lebih besar. Perilaku dalam kekerasan fisik ini tak serta merta memukul pasangan, melainkan diawali dgn memukul tembok atau melempar barang2. Saat marah/kesal/kecewa, si pelaku melampiaskannya dgn memaki pasangannya, ditambah dgn melempari barang2 semisal gelas, laptop, hp, dll. Saat melempari barang tak lagi memuaskannya, kekerasan fisik ditingkatkan jadi pemukulan. Dipukul dgn koran misalnya, ditampar, dijambak. 
Level tertinggi dalam KDP adalah kekerasan seksual. Jika ini sudah terjadi, sang korban sudah benar2 berada dalam cengkraman kuasa pelaku. Apa kekerasan seksual itu? Mulai dari memegang anggota tubuh seksual pasangan tanpa izin sampai memaksa (bahkan mengancam) berhubungan seks 

Pertanyaan yg sering diajukan pada korban adalah "Kok kamu mau sih digituin? Kok ga pergi saja?" Hanya saja tak semudah itu menjawabnya. Pembiasaan, pemakluman, juga ketakutan, kekhawatiran akan ancaman seringkali menghambat utk pergi dari pacaran tak sehat penuh kekerasan.

Penghambat lain adalah naifnya korban ttg kemungkinan pasangannya berubah jadi baik dan rasa tanggung jawab diri utk membantunya berubah. Kekerasan yg dilakukan satu kali bisa saja khilaf. Dilakukan dua kali, tanda bahaya. Dilakukan tiga kali, itu kepribadian. Sulit diubah 

Hal lain yg menghambat korban utk segera pergi adalah karena perilaku kekerasan dalam pacaran seringkali seperti sebuah siklus berulang. 


Siklus KDP: (1) acting out phase (2)honeymoon phase (3) tension building phase. Lalu berulang lagi: acting out-honeymoon-tension building 

(1) Acting out phase artinya adalah saat perilaku kekerasan itu terjadi: verbal emosional - fisik - seksual. Pelaku bertindak menganiaya kamu. Setelah acting out, pelaku umumnya merasa bersalah (apalagi kalau korban mengancam utk putus) lalu minta maaf, memohon,menangis, dll. Saat korban memaafkan pelaku, meski dgn ancaman "berikutnya kejadian lagi, aku beneran mutusin kamu", pelaku akan masuk fase 2: honeymoon 
(2) Honeymoon phase adalah waktu dimana pasanganmu benar2 menunjukkan penyesalannya. Ia baik, perhatian, beliin macam2, perfect deh. Disaat fase honeymoon, biasanya korban merasa keputusannya tepat utk memberi kesempatan pasangannya berubah, dan ia (tampaknya) emang bisa. 
(3) Building tension phase: fase tenang2 menghanyutkan, memupuk masalah yg jadi cikal bakal akan acting out. Seperti bom waktu menunggu Pada fase ini sebeneranya mulai lagi terlihat perilaku kekerasan dalam pacaran meski tersamar. Maklum, lagi numpuk mesiu buat diledakin. Saat ada trigger tertentu, pelaku akan masuk lagi ada acting out phase: ia marah meledak2, memukul, atau memaksa kamu. Kembali ke titik awal 

Hal yg membuat sedih adalah ternyata korban kekerasan sering menganggap bahwa ia (1)bisa mengubahnya (2)bersumbangsih (3)kasihan pd pelaku Dalam keadaan disakiti pun, umumnya korban kekerasan dalam pacaran masih memikirkan pasangannya yg adalah pelaku kekerasan padanya. Sementara sebenarnya sang pelaku kekerasan hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa pernah memikirkan/menghargai diri pasangannya itu. 


Saya punya nasihat singkat bagi yg menyadari bhw kamu korban kekerasan dlm pacaran: pikirkan diri dan bahagiamu, dan PERGILAH!! Saya punya nasihat bagi kamu yg merasa melakukan kekerasan dlm pacaran pd pasanganmu: minta maaf padanya lalu temuilah konselor. 


Semoga membantu, minimal jadi bahan tambahan pengetahuan bagimu.



diambil dari twitter @bangjeki

---------------------------------------------------------------------------------------------------

intinya sih, bukan kenapa pasangan saya memperlakukan saya seperti ini terus, tapi sampai kapan saya mau diperlakukan seperti ini terus oleh pasangan saya.

semoga info ini berguna untuk wanita wanita di luar sana, yang masih bertahan meskipun sudah mengalami kekerasan, hanya dengan alasan "masih sayang banget".

dan semoga info ini membukakan mata hati wanita wanita korban kekerasan dalam pacaran, bahwa pacar mereka tidak akan pernah berubah, dan akan selalu melakukan tindakan kekerasan lagi lagi dan lagi.