Saturday, 1 November 2014

kelakuan masa muda

nemu beginian pas lagi iseng gugling gugling

Gombal dan Galau ala Psikologi 2008

gak paham lagi kenapa dulu bisa sebocor ini otaknya haha

semoga menghibur kalian semua,

dan semoga suatu hari nanti, lembar riwayat hidup benar-benar memiliki kolom berapa lama sayang kamu, 
dan test baum diperbolehkan menggambar pohon keluarga dengan kamu sebagai kepala keluarganya #eaa


yaa, asal kamu gak nebar stimulus ke semua wanita #plak


be nice, be good, and stay alive gais :*

Sunday, 19 October 2014

semoga kamu masih sempat membacanya :)

Ijinkan aku menjelaskan, 
semoga kamu mengerti mengapa melepaskanmu tidak semudah mengijinkan hatiku jatuh dan berpasrah pada takdir tentang perasaan yang kian hari kian tinggi mengangkasa.

Melepaskanmu artinya merelakan perempuan lain bersandar di dada bidangmu, mendengarkan degup jantungmu yang makin cepat saat pelukan makin erat kulingkarkan.

Melepaskanmu artinya menghapus mimpi-mimpiku yang diawali dengan kata 'kita'.
Lantas bagaimana kabar pekarangan rumah impian kita yang akan ditumbuhi bunga warna-warni kesukaanku? Atau daftar negara yang harusnya kita kunjungi bersama?

Melepaskanmu artinya mengubah doaku setiap malam, membiarkan Tuhan menjagamu dengan caraNya, membiarkan aku dan kamu bahagia meskipun tak bersama.

Melepaskanmu artinya membiarkan perempuan lain menjadi alasan senyum dan tawamu. Tidak lagi mengharapkan kamu datang menjenguk saat tamu bulananku terasa menyakitkan.

Melepaskanmu artinya berhenti melangkah dan menerima saja apa yang ditakdirkan semesta untukku, berhenti menangis dan membiarkan semua air mata yang terlanjur tumpah menyatu dengan tanah.

Melepaskanmu artinya belajar berbesar hati, menerima keadaan dan mulai membuat rencana-rencana baru. Berhati-hati agak tidak lagi dilukai, menyusun hati yang patah, melengkungkan senyum meskipun terasa sakit pada awalnya.

Melepaskanmu, tidak semudah yang dikatakan orang-orang terdekatku.

Tuesday, 24 June 2014

rise and fall

assalamualaikummmmm
udah lama banget yes sejak terakhir ngepost
*bersihin sarang laba-laba*
ada begitu banyak kejadian yang gue lewati dalam rangka mengejar gelar magister gue.

setengah tahun ini gue belajar begitu banyak.
baik dari bagaimana caranya menghitung value dari uang, pendekatan yang paling tepat untuk memasarkan produk dan jasa, bagaimana prosesnya suatu barang dari raw hingga bisa menjadi produk yang bisa dipakai oleh penggunanya, dan pastinya bagaimana sistem HR yang baik pada suatu perusahaan.
gue juga diberi kesempatan mengembangkan diri gue, mulai dari diberi Buddy yang begitu baik dan perhatian, teman mentoring yang sangat suportif, mentor-mentor yang baik dan sangat mengapresiasi sekecil apapun perubahan dari mentee-mentee nya. gak pernah ada satupun yang menertawakan kegagapan gue dalam presentasi, baik teknik maupun pembuatan slide.
awal tahun juga gue diberi kesempatan untuk outbound, dan menemukan batas kekuatan gue. ternyata gue mampu berjuang sejauh itu, dan yang akhirnya menghalangi gue untuk terus maju adalah diri gue dan ketakutan ketakutan gue.
dari program kuliah gue, gue diberi kesempatan untuk berbagi dengan orang lain yang membutuhkan bantuan. dari program tersebut gue menyadari ternyata hal yang kita anggap kecil bisa begitu berarti bagi mereka. bahwa tidak ada yang namanya terlalu kecil, terlalu sibuk, atau terlalu sulit dalam membantu. jika kita mau membantu, seharusnya semua alasan itu bukan menjadi penghalang.

tapi namanya hidup gak semuanya berjalan dengan baik. ada kegagalan kegagalan yang cukup menyesakan yang gue alami
mulai dari gagal mengikuti kompetisi manajemen di UI, yang hanya karena masalah administrasi.
penentuan pemilihan elektif SDM-pun awalnya gue ambil dengan berat hati, karena bokap sangat tidak menyetujui gue masuk elektif operasi dan produksi, yang menurutnya terlalu berat untuk perempuan, padahal gue begitu menyukai mata kuliah tersebut.
menjadi satu-satunya anggota kelompok yang tidak lulus di salah satu mata kuliah paling penting adalah kegagalan yang paling menyesakkan buat gue. bukan masalah tidak lulusnya, tapi alasan yang membuat gue tidak lulus. ketidaktelitian gue ketika mengerjakan paper, dan ketidakberanian gue menjawab ujian disaat gue bisa menjawab.

yaa... yang namanya jatuh pasti ada momen bangunnya
dari kegagalan ikut MJM, gue jadi lebih hati-hati dalam melihat ketentuan administrasi
dari kegagalan masuk elektif operasi dan produksi, gue belajar bahwa memang benar apa yang kita sukai belum tentu yang terbaik untuk kita. setelah gue jalani elektif SDM, gue bersyukur gue memilih masuk elektif tersebut, karena gue tidak perlu berusaha sesulit teman teman gue yang harus belajar dari nol. latar belakang gue sangat membantu gue memahami pola pikir dan pendekatan pendekatan sdm.
dari kegagalan lulus membuat gue belajar lebih dalam mengenai mata kuliah tersebut, dan membuat gue semakin menyadari bahwa diri gue sendiri lah musuh utama yang harus gue kalahkan pertama kali jika gue mau berkembang

gue harus mampu mengalahkan ketidakberanian gue mencoba hal yang baru, mengutarakan pendapat, menyelesaikan masalah, dan mengatakan tidak ketika gue harus mengatakan tidak. 
gue juga harus mulai bisa mengatur waktu dengan baik, dan mengelola hidup gue agar lebih bermanfaat minimal untuk diri gue sendiri di masa yang akan datang, supaya gak ada lagi kegagalan yang tidak perlu, yang sesungguhnya tidak perlu terjadi.

ya, seperti yang guru konseling di tempat les gue pernah bilang,
untuk mendaki puncak yang lebih tinggi harus menuruni lembah terlebih dahulu.
setengah tahun ini memberikan pelajaran yang sangat banyak, dan semoga setengah tahun sisanya dapat gue lalui dengan baik, sampai gue dapat meraih gelar magister gue :)

be nice, be good, and stay alive :)

Monday, 27 January 2014

tamat.

semua cerita butuh penutup.
baik cerita yang manis, bahagia, dan memberikan kenangan yang indah,
maupun cerita yang penuh luka dan air mata.
pada akhirnya, kisah itu harus ada akhirnya. sebahagia apapun, semenyakitkan apapun, akan ada halaman terakhir.

tidak mudah menemukan penutup untuk kisah yang telah kita alami
kisah yang memberikan memori indah, pasti berat untuk diikhlaskan. sebagian besar hati rasanya ingin kembali ke masa itu, masa dimana rasanya dunia milik berdua, rasanya jalanan dipenuhi bunga bunga bermekaran... rasanya setiap napas mengandung kebahagiaan tanpa akhir.

kisah yang meninggalkan luka pada hati pun tidak kalah sulit dilupakan. banyak tanya yang masih menggantung 
mengapa hidup saya harus seperti ini? mengapa saya tidak bisa menjadi seperti itu? mengapa waktu itu saya tidak memilih jalan lain, sehingga tidak perlu terjebak seperti ini?
mengapa saya tidak bertahan pada jalur impian saya? mengapa saya begitu terlempar jauh dari impian saya?
mengapa? mengapa? mengapa?
pertanyaan yang tidak ada habisnya, yang tidak akan ada jawabannya


kadang kesadaran untuk menutup cerita tersebut muncul dengan sendirinya, entah karena akhirnya sadar bahwa yang dilakukan adalah sia-sia, karena semua memang sudah harus berakhir, karena memang hidup kita harus berjalan pada jalur yang seperti ini
atau mungkin sebenarnya jauh dilubuk hati kita sadar, memang sudah tidak ada yang bisa dilakukan, namun kita saja yang masih terlalu enggan untuk mencerna makna "tamat" yang tertera dengan sangat jelas pada halaman terakhir kisah yang masih kita genggam erat tersebut

kadang kita harus memaksa diri untuk melihat, bahwa kisah itu sudah berakhir
bahwa dihadapan kita ada buku baru, yang siap dibuka

bagaimana kita bisa tahu kisah seperti apa yang ada di buku baru tersebut, kalau kita masih sibuk menatap buku yang sudah mulai ditutupi debu?

apakah kita sudah yakin bahwa buku baru ini tidak memberikan kisah yang jauh lebih manis dari kisah manis yang pernah kita rasakan?
apakah kita sudah terlanjur penuh luka, sehingga menutup mata, dan tidak mau mencari tahu apakah di buku baru tersebut ada perban yang bisa membantu menyembuhkan luka kita pelan pelan?
hanya karena sehelai ujung kertas pernah melukai, bukan berarti seluruh buku didunia ini akan memberikan luka pada jari kita bukan?

kisah yang baik tentunya kisah yang memiliki penutup, dan mampu membuat pembacanya tidak sabar mencari buku baru untuk dibaca, atau bahkan ditulis sendiri akhir ceritanya :)


kisah ini dibuat karena penulis sedang berusaha menerima kenyataan bahwa psikolog klinis bukan merupakan satu dari profesi yang akan dijalani penulis dimasa depan :")