Monday, 27 January 2014

tamat.

semua cerita butuh penutup.
baik cerita yang manis, bahagia, dan memberikan kenangan yang indah,
maupun cerita yang penuh luka dan air mata.
pada akhirnya, kisah itu harus ada akhirnya. sebahagia apapun, semenyakitkan apapun, akan ada halaman terakhir.

tidak mudah menemukan penutup untuk kisah yang telah kita alami
kisah yang memberikan memori indah, pasti berat untuk diikhlaskan. sebagian besar hati rasanya ingin kembali ke masa itu, masa dimana rasanya dunia milik berdua, rasanya jalanan dipenuhi bunga bunga bermekaran... rasanya setiap napas mengandung kebahagiaan tanpa akhir.

kisah yang meninggalkan luka pada hati pun tidak kalah sulit dilupakan. banyak tanya yang masih menggantung 
mengapa hidup saya harus seperti ini? mengapa saya tidak bisa menjadi seperti itu? mengapa waktu itu saya tidak memilih jalan lain, sehingga tidak perlu terjebak seperti ini?
mengapa saya tidak bertahan pada jalur impian saya? mengapa saya begitu terlempar jauh dari impian saya?
mengapa? mengapa? mengapa?
pertanyaan yang tidak ada habisnya, yang tidak akan ada jawabannya


kadang kesadaran untuk menutup cerita tersebut muncul dengan sendirinya, entah karena akhirnya sadar bahwa yang dilakukan adalah sia-sia, karena semua memang sudah harus berakhir, karena memang hidup kita harus berjalan pada jalur yang seperti ini
atau mungkin sebenarnya jauh dilubuk hati kita sadar, memang sudah tidak ada yang bisa dilakukan, namun kita saja yang masih terlalu enggan untuk mencerna makna "tamat" yang tertera dengan sangat jelas pada halaman terakhir kisah yang masih kita genggam erat tersebut

kadang kita harus memaksa diri untuk melihat, bahwa kisah itu sudah berakhir
bahwa dihadapan kita ada buku baru, yang siap dibuka

bagaimana kita bisa tahu kisah seperti apa yang ada di buku baru tersebut, kalau kita masih sibuk menatap buku yang sudah mulai ditutupi debu?

apakah kita sudah yakin bahwa buku baru ini tidak memberikan kisah yang jauh lebih manis dari kisah manis yang pernah kita rasakan?
apakah kita sudah terlanjur penuh luka, sehingga menutup mata, dan tidak mau mencari tahu apakah di buku baru tersebut ada perban yang bisa membantu menyembuhkan luka kita pelan pelan?
hanya karena sehelai ujung kertas pernah melukai, bukan berarti seluruh buku didunia ini akan memberikan luka pada jari kita bukan?

kisah yang baik tentunya kisah yang memiliki penutup, dan mampu membuat pembacanya tidak sabar mencari buku baru untuk dibaca, atau bahkan ditulis sendiri akhir ceritanya :)


kisah ini dibuat karena penulis sedang berusaha menerima kenyataan bahwa psikolog klinis bukan merupakan satu dari profesi yang akan dijalani penulis dimasa depan :")